Peluang Bisnis Properti

Tidak dapat dipungkiri bahwa investasi properti selalu diidentikkan dengan investasinya orang kaya. Padahal persepsi itu tidak selalu benar. Menurut saya, siapa pun bisa berinvestasi di properti. Anda tidak harus menunggu punya uang banyak untuk investasi di properti. Sekarang pun, anda bisa memulai bisnis atau investasi properti, asal anda tahu caranya dan mau mempraktekkannya. Memang, tidak banyak buku-buku yang membahas tentang bisnis properti. Setahu saya, sekarang ini justru banyak buku dan majalah yang membahas bagaimana membuat rumah anda cantik, mewah atau membuat rumah idaman. Buku dan majalah properti, interior, arsitek dan sejenisnya ini yang kemudian membuat kita seolah-olah membuktikan bahwa properti itu memang hanya untuk orang-orang kaya. Karena itu, pada kesempatan ini, saya sengaja mengulas sedikit tentang investasi properti agar kita semua menyadari bahwa begitu hebatnya properti ini bila kita jadikan sebagai bisnis maupun investasi. Lagi pula, konon, sahabat nabi seperti Umar bin Khattab pun sesungguhnya memiliki properti berupa kebun kurma ribuan hektar, begitu pula Abdurrahman bin Auf yang begitu kaya raya dan memiliki banyak properti.

Ilmu mengenai properti ini, menurut saya, ‘wajib’ dimiliki oleh seseorang yang ingin kaya. Karena pada kenyataannya, selalu ada persamaan antara orang yang kaya di dunia ini. Persamaan itu terletak dari hartanya yang selalu berupa properti baik rumah, gudang, vila maupun gedung perkantoran. Kepemilikan properti itu bisa karena dia berbisnis properti, atau karena setelah kaya, dia membeli properti.

Mengapa kita harus investasi di properti? Karena secara umum investasi di properti itu lebih menguntungkan dibandingkan dengan investasi yang lain. Pertama, anda tidak harus memiliki uang tunai sebesar harga beli properti yang akan anda beli, karena anda bisa mendapatkan properti dengan menggunakan uang orang lain dalam hal ini uang bank. Kedua, anda bisa membeli properti dengan nilai yang jauh lebih tinggi daripada yang anda bayar.

Ketiga, anda bisa meningkatkan nilai sebuah properti secara besar-besaran tanpa mengeluarkan banyak uang. Bandingkan dengan investasi di emas atau saham. Ketika anda membeli emas, anda tidak bisa menaikkan harga emas anda. Kalau anda mau jual maka harganya sesuai dengan harga pasar yang fluktuatif naik turun. Meski anda buat emas anda dengan hiasan atau bentuk yang indah, cukup sulit untuk mendapatkan pembeli yang senang dengan emas anda. Demikian juga investasi di saham. Kalau anda membeli saham Telkom misalnya. Begitu anda beli, harga saham Telkom di bursa efek bisa turun, bisa pula naik sewaktu-waktu dalam hitungan detik. Anda tidak bisa mengontrol harga saham yang anda beli.

Keempat, anda tidak harus menjual properti untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan harganya, karena anda bisa mendapatkan kredit lagi dari properti yang anda punya itu, kemudian anda belikan properti yang lain. Kelima, anda tidak perlu memantau properti anda setiap saat. Begitu anda beli sebuah rumah, anda tidak perlu lagi setiap hari mendatangi rumah itu. Anda tidak kuatir rumah anda hilang, layaknya kalau anda memiliki emas senilai Rp200 juta, maka anda akan memikirkan tempat yang aman. Begitu pula anda tidak perlu harus memantau harga properti setiap hari atau setiap bulan. Setelah anda beli properti, maka anda sewakan dan setelah itu anda sudah tidak pernah memikirkan apakah harganya akan naik atau turun. Dengan demikian, beban pikiran anda relatif ringan dibanding dengan investasi atau bisnis yang lain.

Keenam, harga properti cenderung naik. Kenaikannya yang pasti adalah secara perlahan-lahan dan konsisten, tapi tidak menutup kemungkinan kenaikannya akan melejit karena adanya perubahan positif disekitar properti anda. Ketujuh, properti bersifat sangat pemaaf terhadap kesalahan. Bagi orang awam pun, kalau punya uang bisa membeli properti dan kemungkinan besar akan tetap untung. Apalagi kalau anda memiliki ilmu properti yang memadai, maka membeli properti semakin menguntungkan. Bandingkan dengan kalau anda mau beli saham, emas atau bisnis. Kalau anda tidak memiliki informasi dan ilmu yang cukup, maka kemungkinan anda akan rugi. Lalu bagaimana memulai investasi properti ini? Anda bisa memulai investasi properti dengan uang sedikit bahkan tanpa uang sama sekali kalau anda tahu caranya. Investasi di properti ini memang unik dibandingkan dengan investasi lain, seperti emas, deposito atau saham. Kalau anda punya uang Rp15 juta, maka anda hanya bisa membeli emas senilai Rp15 juta. Demikian pula, kalau anda ingin investasi di saham, anda pun hanya bisa membeli saham sebesar Rp15 juta. Deposito pun juga demikian. Anda tidak bisa bilang ke bank, “tolong dong…, deposito saya dibuat Rp16,5 juta dengan menambahkan bunga/bagi hasil saya selama satu tahun!” Sekarang bandingkan dengan investasi di properti. Uang Rp15 juta bisa anda gunakan untuk membeli properti senilai Rp50 juta, Rp75 juta atau bahkan Rp150 juta. Lho kok bisa begitu?

Inilah hebatnya properti. Hampir semua bank berlomba-lomba mengucurkan kreditnya kepada orang yang membeli properti. Bank mau memberikan kreditnya di sektor properti karena sektor ini dinilai aman dan menguntungkan. Karena itu, jangan lewatkan peluang investasi ini begitu saja. Anda bisa memulai investasi properti sesuai kemampuan anda. Kalau anda hanya mampu membeli properti seharga Rp50 juta, itu sudah bagus. Karena untuk membeli properti seharga Rp50 juta, anda tidak harus memiliki uang Rp50 juta, tapi minimal hanya 10% dari harga properti atau Rp5 juta. Tapi sayangnya, kebanyakan orang tidak berpikir jangka panjang. Punya uang Rp5 juta, kemudian digunakan untuk uang muka kredit mobil, atau beli HP tipe terbaru, beli tape recorder yang lebih canggih, pergi keluar negeri dan sebagainya. Tidak ada salahnya sih, anda membeli barang-barang konsumtif seperti itu, asalkan anda benar-benar sudah mampu membelinya dan tidak melupakan investasi yang lebih menguntungkan.

Kehebatan lain dari properti ini adalah ketika anda sudah investasi properti, anda akan ketagihan untuk membeli properti kedua, ketiga dan seterusnya. Sebab, bila properti yang pertama anda beli bisa menghasilkan uang karena disewakan, maka anda tidak pusing lagi dengan angsuran ke bank. Apalagi, bila anda mendapatkan KPR dengan jangka waktu yang panjang, maka jumlah angsuran itu lama kelamaan semakin tidak terasa memberatkan karena nilainya terasa semakin kecil. Misalnya, saat sepuluh tahun lalu anda memiliki KPR dengan angsuran Rp200 ribu sebulan, angsuran itu terasa begitu besar. Tapi coba bandingkan dengan nilai sekarang, Rp200 ribu itu seolah ‘tidak ada harganya’. Apalagi pendapatan anda saat ini sudah meningkat dan lebih besar.

Prinsip utama dalam investasi properti ini adalah gunakan uang bank untuk membiayai properti anda. Dengan demikian, anda tidak perlu takut karena saat ini belum memiliki uang untuk membeli properti. Bank siap membantu anda. Kalau anda tidak mau menggunakan bank konvensional, saat ini sudah banyak bank syariah yang menawarkan kredit KPR. Bahkan dengan bank syariah ini, anda bisa lebih aman karena angsuran kredit yang anda bayarkan akan terjamin tetap hingga lunas. Hal ini karena prinsip yang digunakan bukan berdasarkan bunga bank yang berfluktuasi naik turun, tapi berdasarkan prinsip jual beli. Untuk mendapatkan kredit yang lebih besar, anda jangan takut untuk meminta pinjaman dengan jangka waktu sampai 20 tahun. Mungkin anda akan bilang, “Wooww.. lama amaat…” Tenang…, bagaimana pun, kredit jangka panjang untuk properti masih menguntungkan. Contoh riilnya seperti ini. Kalau anda membeli rumah seharga Rp50 juta dengan KPR 80% atau Rp40 juta maka angsuran per bulan untuk jangka waktu 20 tahun adalah Rp512 ribu. Nah, dengan harga rumah Rp50 juta, dan bila rata-rata kenaikan harga rumah 25% per tahun, maka pada tahun keempat rumah anda bisa meningkat menjadi Rp100 juta. Kalau anda sudah tidak mau repot-repot mengangsur kredit selama 20 tahun, maka anda bisa menjualnya dan anda masih untung. Apalagi kalau rumah yang anda beli itu disewakan, maka anda akan mendapatkan dua keuntungan yakni dari sewa dan dari kenaikan harga properti. Meski anda bisa mendapatkan untung dengan menjual properti anda, sebaiknya anda menghindari menjual properti, kecuali dalam kondisi yang tidak memaksa. Mengapa demikian? Mungkin anda sering mendengar penyesalan seperti ini. “Aduh… sayang sekali, rumah saya jual sepuluh tahun lalu seharga Rp200 juta. Coba kalau saya jual sekarang ini, harganya sudah mencapai Rp2,5 miliar”. Atau anda dengar dari seorang pensiunan, “Sayanyesel kenapa saya dulu, 20 tahun lalu tidak membeli beberapa kavling rumah ini. Dulu harganya hanya Rp5 juta, tapi sekarang sudah Rp1 miliar. Dulu rumah ini murah sekali karena masih sepi”.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka anda jangan lagi takut membeli dan investasi properti. Investasi properti bukan monopoli untuk orang kaya, karena anda pun bisa! Mulailah dengan membeli properti rumah, ruko atau rukan sesuai dengan kemampuan anda. Dan ingat, bahwa kunci keberhasilan dari investasi ini adalah kalau kita berpikiran jangka panjang. Selamat mencoba! *) By. Safak Muhammad, Tulisan telah dimuat di Majalah Nurul Hayat Surabaya

Peluang Bisnis Properti

Ilmu mengenai properti ini, menurut saya, ‘wajib’ dimiliki oleh seseorang yang ingin kaya. Karena pada kenyataannya, selalu ada persamaan antara orang yang kaya di dunia ini. Persamaan itu terletak dari hartanya yang selalu berupa properti baik rumah, gudang, vila maupun gedung perkantoran. Kepemilikan properti itu bisa karena dia berbisnis properti, atau karena setelah kaya, dia membeli properti.

Mengapa kita harus investasi di properti? Karena secara umum investasi di properti itu lebih menguntungkan dibandingkan dengan investasi yang lain. Pertama, anda tidak harus memiliki uang tunai sebesar harga beli properti yang akan anda beli, karena anda bisa mendapatkan properti dengan menggunakan uang orang lain dalam hal ini uang bank. Kedua, anda bisa membeli properti dengan nilai yang jauh lebih tinggi daripada yang anda bayar.

Ketiga, anda bisa meningkatkan nilai sebuah properti secara besar-besaran tanpa mengeluarkan banyak uang. Bandingkan dengan investasi di emas atau saham. Ketika anda membeli emas, anda tidak bisa menaikkan harga emas anda. Kalau anda mau jual maka harganya sesuai dengan harga pasar yang fluktuatif naik turun. Meski anda buat emas anda dengan hiasan atau bentuk yang indah, cukup sulit untuk mendapatkan pembeli yang senang dengan emas anda. Demikian juga investasi di saham. Kalau anda membeli saham Telkom misalnya. Begitu anda beli, harga saham Telkom di bursa efek bisa turun, bisa pula naik sewaktu-waktu dalam hitungan detik. Anda tidak bisa mengontrol harga saham yang anda beli.

Keempat, anda tidak harus menjual properti untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan harganya, karena anda bisa mendapatkan kredit lagi dari properti yang anda punya itu, kemudian anda belikan properti yang lain. Kelima, anda tidak perlu memantau properti anda setiap saat. Begitu anda beli sebuah rumah, anda tidak perlu lagi setiap hari mendatangi rumah itu. Anda tidak kuatir rumah anda hilang, layaknya kalau anda memiliki emas senilai Rp200 juta, maka anda akan memikirkan tempat yang aman. Begitu pula anda tidak perlu harus memantau harga properti setiap hari atau setiap bulan. Setelah anda beli properti, maka anda sewakan dan setelah itu anda sudah tidak pernah memikirkan apakah harganya akan naik atau turun. Dengan demikian, beban pikiran anda relatif ringan dibanding dengan investasi atau bisnis yang lain.

Keenam, harga properti cenderung naik. Kenaikannya yang pasti adalah secara perlahan-lahan dan konsisten, tapi tidak menutup kemungkinan kenaikannya akan melejit karena adanya perubahan positif disekitar properti anda. Ketujuh, properti bersifat sangat pemaaf terhadap kesalahan. Bagi orang awam pun, kalau punya uang bisa membeli properti dan kemungkinan besar akan tetap untung. Apalagi kalau anda memiliki ilmu properti yang memadai, maka membeli properti semakin menguntungkan. Bandingkan dengan kalau anda mau beli saham, emas atau bisnis. Kalau anda tidak memiliki informasi dan ilmu yang cukup, maka kemungkinan anda akan rugi. Lalu bagaimana memulai investasi properti ini? Anda bisa memulai investasi properti dengan uang sedikit bahkan tanpa uang sama sekali kalau anda tahu caranya. Investasi di properti ini memang unik dibandingkan dengan investasi lain, seperti emas, deposito atau saham. Kalau anda punya uang Rp15 juta, maka anda hanya bisa membeli emas senilai Rp15 juta. Demikian pula, kalau anda ingin investasi di saham, anda pun hanya bisa membeli saham sebesar Rp15 juta. Deposito pun juga demikian. Anda tidak bisa bilang ke bank, “tolong dong…, deposito saya dibuat Rp16,5 juta dengan menambahkan bunga/bagi hasil saya selama satu tahun!” Sekarang bandingkan dengan investasi di properti. Uang Rp15 juta bisa anda gunakan untuk membeli properti senilai Rp50 juta, Rp75 juta atau bahkan Rp150 juta. Lho kok bisa begitu?

Inilah hebatnya properti. Hampir semua bank berlomba-lomba mengucurkan kreditnya kepada orang yang membeli properti. Bank mau memberikan kreditnya di sektor properti karena sektor ini dinilai aman dan menguntungkan. Karena itu, jangan lewatkan peluang investasi ini begitu saja. Anda bisa memulai investasi properti sesuai kemampuan anda. Kalau anda hanya mampu membeli properti seharga Rp50 juta, itu sudah bagus. Karena untuk membeli properti seharga Rp50 juta, anda tidak harus memiliki uang Rp50 juta, tapi minimal hanya 10% dari harga properti atau Rp5 juta. Tapi sayangnya, kebanyakan orang tidak berpikir jangka panjang. Punya uang Rp5 juta, kemudian digunakan untuk uang muka kredit mobil, atau beli HP tipe terbaru, beli tape recorder yang lebih canggih, pergi keluar negeri dan sebagainya. Tidak ada salahnya sih, anda membeli barang-barang konsumtif seperti itu, asalkan anda benar-benar sudah mampu membelinya dan tidak melupakan investasi yang lebih menguntungkan.

Kehebatan lain dari properti ini adalah ketika anda sudah investasi properti, anda akan ketagihan untuk membeli properti kedua, ketiga dan seterusnya. Sebab, bila properti yang pertama anda beli bisa menghasilkan uang karena disewakan, maka anda tidak pusing lagi dengan angsuran ke bank. Apalagi, bila anda mendapatkan KPR dengan jangka waktu yang panjang, maka jumlah angsuran itu lama kelamaan semakin tidak terasa memberatkan karena nilainya terasa semakin kecil. Misalnya, saat sepuluh tahun lalu anda memiliki KPR dengan angsuran Rp200 ribu sebulan, angsuran itu terasa begitu besar. Tapi coba bandingkan dengan nilai sekarang, Rp200 ribu itu seolah ‘tidak ada harganya’. Apalagi pendapatan anda saat ini sudah meningkat dan lebih besar.

Prinsip utama dalam investasi properti ini adalah gunakan uang bank untuk membiayai properti anda. Dengan demikian, anda tidak perlu takut karena saat ini belum memiliki uang untuk membeli properti. Bank siap membantu anda. Kalau anda tidak mau menggunakan bank konvensional, saat ini sudah banyak bank syariah yang menawarkan kredit KPR. Bahkan dengan bank syariah ini, anda bisa lebih aman karena angsuran kredit yang anda bayarkan akan terjamin tetap hingga lunas. Hal ini karena prinsip yang digunakan bukan berdasarkan bunga bank yang berfluktuasi naik turun, tapi berdasarkan prinsip jual beli. Untuk mendapatkan kredit yang lebih besar, anda jangan takut untuk meminta pinjaman dengan jangka waktu sampai 20 tahun. Mungkin anda akan bilang, “Wooww.. lama amaat…” Tenang…, bagaimana pun, kredit jangka panjang untuk properti masih menguntungkan. Contoh riilnya seperti ini. Kalau anda membeli rumah seharga Rp50 juta dengan KPR 80% atau Rp40 juta maka angsuran per bulan untuk jangka waktu 20 tahun adalah Rp512 ribu. Nah, dengan harga rumah Rp50 juta, dan bila rata-rata kenaikan harga rumah 25% per tahun, maka pada tahun keempat rumah anda bisa meningkat menjadi Rp100 juta. Kalau anda sudah tidak mau repot-repot mengangsur kredit selama 20 tahun, maka anda bisa menjualnya dan anda masih untung. Apalagi kalau rumah yang anda beli itu disewakan, maka anda akan mendapatkan dua keuntungan yakni dari sewa dan dari kenaikan harga properti. Meski anda bisa mendapatkan untung dengan menjual properti anda, sebaiknya anda menghindari menjual properti, kecuali dalam kondisi yang tidak memaksa. Mengapa demikian? Mungkin anda sering mendengar penyesalan seperti ini. “Aduh… sayang sekali, rumah saya jual sepuluh tahun lalu seharga Rp200 juta. Coba kalau saya jual sekarang ini, harganya sudah mencapai Rp2,5 miliar”. Atau anda dengar dari seorang pensiunan, “Sayanyesel kenapa saya dulu, 20 tahun lalu tidak membeli beberapa kavling rumah ini. Dulu harganya hanya Rp5 juta, tapi sekarang sudah Rp1 miliar. Dulu rumah ini murah sekali karena masih sepi”.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka anda jangan lagi takut membeli dan investasi properti. Investasi properti bukan monopoli untuk orang kaya, karena anda pun bisa! Mulailah dengan membeli properti rumah, ruko atau rukan sesuai dengan kemampuan anda. Dan ingat, bahwa kunci keberhasilan dari investasi ini adalah kalau kita berpikiran jangka panjang. Selamat mencoba! *) By. Safak Muhammad, Tulisan telah dimuat di Majalah Nurul Hayat Surabaya

Peluang Bisnis Properti

Ilmu mengenai properti ini, menurut saya, ‘wajib’ dimiliki oleh seseorang yang ingin kaya. Karena pada kenyataannya, selalu ada persamaan antara orang yang kaya di dunia ini. Persamaan itu terletak dari hartanya yang selalu berupa properti baik rumah, gudang, vila maupun gedung perkantoran. Kepemilikan properti itu bisa karena dia berbisnis properti, atau karena setelah kaya, dia membeli properti.

Mengapa kita harus investasi di properti? Karena secara umum investasi di properti itu lebih menguntungkan dibandingkan dengan investasi yang lain. Pertama, anda tidak harus memiliki uang tunai sebesar harga beli properti yang akan anda beli, karena anda bisa mendapatkan properti dengan menggunakan uang orang lain dalam hal ini uang bank. Kedua, anda bisa membeli properti dengan nilai yang jauh lebih tinggi daripada yang anda bayar.

Ketiga, anda bisa meningkatkan nilai sebuah properti secara besar-besaran tanpa mengeluarkan banyak uang. Bandingkan dengan investasi di emas atau saham. Ketika anda membeli emas, anda tidak bisa menaikkan harga emas anda. Kalau anda mau jual maka harganya sesuai dengan harga pasar yang fluktuatif naik turun. Meski anda buat emas anda dengan hiasan atau bentuk yang indah, cukup sulit untuk mendapatkan pembeli yang senang dengan emas anda. Demikian juga investasi di saham. Kalau anda membeli saham Telkom misalnya. Begitu anda beli, harga saham Telkom di bursa efek bisa turun, bisa pula naik sewaktu-waktu dalam hitungan detik. Anda tidak bisa mengontrol harga saham yang anda beli.

Keempat, anda tidak harus menjual properti untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan harganya, karena anda bisa mendapatkan kredit lagi dari properti yang anda punya itu, kemudian anda belikan properti yang lain. Kelima, anda tidak perlu memantau properti anda setiap saat. Begitu anda beli sebuah rumah, anda tidak perlu lagi setiap hari mendatangi rumah itu. Anda tidak kuatir rumah anda hilang, layaknya kalau anda memiliki emas senilai Rp200 juta, maka anda akan memikirkan tempat yang aman. Begitu pula anda tidak perlu harus memantau harga properti setiap hari atau setiap bulan. Setelah anda beli properti, maka anda sewakan dan setelah itu anda sudah tidak pernah memikirkan apakah harganya akan naik atau turun. Dengan demikian, beban pikiran anda relatif ringan dibanding dengan investasi atau bisnis yang lain.

Keenam, harga properti cenderung naik. Kenaikannya yang pasti adalah secara perlahan-lahan dan konsisten, tapi tidak menutup kemungkinan kenaikannya akan melejit karena adanya perubahan positif disekitar properti anda. Ketujuh, properti bersifat sangat pemaaf terhadap kesalahan. Bagi orang awam pun, kalau punya uang bisa membeli properti dan kemungkinan besar akan tetap untung. Apalagi kalau anda memiliki ilmu properti yang memadai, maka membeli properti semakin menguntungkan. Bandingkan dengan kalau anda mau beli saham, emas atau bisnis. Kalau anda tidak memiliki informasi dan ilmu yang cukup, maka kemungkinan anda akan rugi. Lalu bagaimana memulai investasi properti ini? Anda bisa memulai investasi properti dengan uang sedikit bahkan tanpa uang sama sekali kalau anda tahu caranya. Investasi di properti ini memang unik dibandingkan dengan investasi lain, seperti emas, deposito atau saham. Kalau anda punya uang Rp15 juta, maka anda hanya bisa membeli emas senilai Rp15 juta. Demikian pula, kalau anda ingin investasi di saham, anda pun hanya bisa membeli saham sebesar Rp15 juta. Deposito pun juga demikian. Anda tidak bisa bilang ke bank, “tolong dong…, deposito saya dibuat Rp16,5 juta dengan menambahkan bunga/bagi hasil saya selama satu tahun!” Sekarang bandingkan dengan investasi di properti. Uang Rp15 juta bisa anda gunakan untuk membeli properti senilai Rp50 juta, Rp75 juta atau bahkan Rp150 juta. Lho kok bisa begitu?

Inilah hebatnya properti. Hampir semua bank berlomba-lomba mengucurkan kreditnya kepada orang yang membeli properti. Bank mau memberikan kreditnya di sektor properti karena sektor ini dinilai aman dan menguntungkan. Karena itu, jangan lewatkan peluang investasi ini begitu saja. Anda bisa memulai investasi properti sesuai kemampuan anda. Kalau anda hanya mampu membeli properti seharga Rp50 juta, itu sudah bagus. Karena untuk membeli properti seharga Rp50 juta, anda tidak harus memiliki uang Rp50 juta, tapi minimal hanya 10% dari harga properti atau Rp5 juta. Tapi sayangnya, kebanyakan orang tidak berpikir jangka panjang. Punya uang Rp5 juta, kemudian digunakan untuk uang muka kredit mobil, atau beli HP tipe terbaru, beli tape recorder yang lebih canggih, pergi keluar negeri dan sebagainya. Tidak ada salahnya sih, anda membeli barang-barang konsumtif seperti itu, asalkan anda benar-benar sudah mampu membelinya dan tidak melupakan investasi yang lebih menguntungkan.

Kehebatan lain dari properti ini adalah ketika anda sudah investasi properti, anda akan ketagihan untuk membeli properti kedua, ketiga dan seterusnya. Sebab, bila properti yang pertama anda beli bisa menghasilkan uang karena disewakan, maka anda tidak pusing lagi dengan angsuran ke bank. Apalagi, bila anda mendapatkan KPR dengan jangka waktu yang panjang, maka jumlah angsuran itu lama kelamaan semakin tidak terasa memberatkan karena nilainya terasa semakin kecil. Misalnya, saat sepuluh tahun lalu anda memiliki KPR dengan angsuran Rp200 ribu sebulan, angsuran itu terasa begitu besar. Tapi coba bandingkan dengan nilai sekarang, Rp200 ribu itu seolah ‘tidak ada harganya’. Apalagi pendapatan anda saat ini sudah meningkat dan lebih besar.

Prinsip utama dalam investasi properti ini adalah gunakan uang bank untuk membiayai properti anda. Dengan demikian, anda tidak perlu takut karena saat ini belum memiliki uang untuk membeli properti. Bank siap membantu anda. Kalau anda tidak mau menggunakan bank konvensional, saat ini sudah banyak bank syariah yang menawarkan kredit KPR. Bahkan dengan bank syariah ini, anda bisa lebih aman karena angsuran kredit yang anda bayarkan akan terjamin tetap hingga lunas. Hal ini karena prinsip yang digunakan bukan berdasarkan bunga bank yang berfluktuasi naik turun, tapi berdasarkan prinsip jual beli. Untuk mendapatkan kredit yang lebih besar, anda jangan takut untuk meminta pinjaman dengan jangka waktu sampai 20 tahun. Mungkin anda akan bilang, “Wooww.. lama amaat…” Tenang…, bagaimana pun, kredit jangka panjang untuk properti masih menguntungkan. Contoh riilnya seperti ini. Kalau anda membeli rumah seharga Rp50 juta dengan KPR 80% atau Rp40 juta maka angsuran per bulan untuk jangka waktu 20 tahun adalah Rp512 ribu. Nah, dengan harga rumah Rp50 juta, dan bila rata-rata kenaikan harga rumah 25% per tahun, maka pada tahun keempat rumah anda bisa meningkat menjadi Rp100 juta. Kalau anda sudah tidak mau repot-repot mengangsur kredit selama 20 tahun, maka anda bisa menjualnya dan anda masih untung. Apalagi kalau rumah yang anda beli itu disewakan, maka anda akan mendapatkan dua keuntungan yakni dari sewa dan dari kenaikan harga properti. Meski anda bisa mendapatkan untung dengan menjual properti anda, sebaiknya anda menghindari menjual properti, kecuali dalam kondisi yang tidak memaksa. Mengapa demikian? Mungkin anda sering mendengar penyesalan seperti ini. “Aduh… sayang sekali, rumah saya jual sepuluh tahun lalu seharga Rp200 juta. Coba kalau saya jual sekarang ini, harganya sudah mencapai Rp2,5 miliar”. Atau anda dengar dari seorang pensiunan, “Sayanyesel kenapa saya dulu, 20 tahun lalu tidak membeli beberapa kavling rumah ini. Dulu harganya hanya Rp5 juta, tapi sekarang sudah Rp1 miliar. Dulu rumah ini murah sekali karena masih sepi”.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka anda jangan lagi takut membeli dan investasi properti. Investasi properti bukan monopoli untuk orang kaya, karena anda pun bisa! Mulailah dengan membeli properti rumah, ruko atau rukan sesuai dengan kemampuan anda. Dan ingat, bahwa kunci keberhasilan dari investasi ini adalah kalau kita berpikiran jangka panjang. Selamat mencoba! *) By. Safak Muhammad, Tulisan telah dimuat di Majalah Nurul Hayat Surabayap>Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!